Kecerdasan Dan kesabaran

Pada umumnya kecerdasan dihubungkan dengan akal (intelektuial, tetapi kecerdasan intelektual ternyata belum menjamin ketepataan keputusan, sehingga dewasa ini orang sudah mulai membicarakan tentang kecerdasan yang lain, yaitu kecerdasan emosional dan kecerdasaan spiritual.
Kecerdasan intelektuil diwujudkan dalam kemampuan berfikir. Menurut Asfihani, fikiran adalah potensi yang dapat mengantar pengetahuan sampai kepada obyek (quwwatun mudrikatun li al `ilmi ila al ma`lum), sedangkan berfikir artinya menggunakan potensi itu sesuai dengan kapasitas intelektualnya.


<!– more –>
Dalam kehidupan kita, berfikir diperlukan untuk bermacam keadaan seperti:
1/ Memecahkan masalah yang kita hadapi ataupun yang orang lain hadapi (problem solving)
2/ Mengambil keputusan (decision making)
3/ Berani Melahirkan sesuatu yang baru (kreatifitas).

[9.gif]
Jika kecerdasan intelektual diwujudkan dalam berfikir, maka kecerdasan emosi diwujudkan dalam merasa. Manusia memang makhluk yang berfikir dan merasa. Emosi nampak dalam perubahan fisik yang diakibatkan oleh peristiwa mental, seperti : muka merah (karena malu), muka pucat, tubuh gemetar, otot mengencang (karena marah) ,mata terpejam dan menangis (karena haru atau gembira) dan sebagainya. Emosi adalah perubahan jasmani langsung mengikuti persepsi mengenai kenyataan yang menggairahkan.



Adapun kecerdasan spiritual merupakan kualitas kehidupan rohani seseorang, dimana seseorang dimungkinkan berkomunikasi secara rohaniah, baik secara horizontal maupun vertikal.Dalam agama, sabar merupakan satu diantara level-level (maqamat) agama, dan satu anak tangga dari tangga seorang hamba shaleh dalam upayanya mendekatkan diri kepada Allah. swt.
Patut kiranya disebutkan bahwa  maqamat agama terdiri dari :
1/ Pengetahuan (ma`arif) yang dapat umpamakan sebagai pohon,
2/ Sikap (ahwal) yang dapat umpamakan sebagai cabang dari pohon diatas
3/ Perbuatan (amal) yang dapat umpamakan sebagai buah yang dihasilkan pohon.

Ada tiga tingkatan orang sabar :
1/ Orang yang dapat menekan habis hawa nafsu hingga tidak ada perlawanan sedikitppun, dan orang itu bersabar secara konstan. orang sabar seperti itu adalah orang yang telah mencapai tinggkat  shiddiqin.
2/ Orang yang tunduk total kepada dorongan hawa nafsunya sehingga motivasi agama sama sekali tidak dapat muncul. Mereka termasuk kategori orang-orang yang lalai (al ghafilun).
3/ Orang yang senantiasa dalam konflik antara dorongan hawa nafsu dengan dorongan agama. Mereka adalah orang yang mencampuradukkan kebenaran dengan kesalahan.


 Tetapi sabar juga ada batasnya, oleh karena itu kesabaran harus selalu dievaluasi secara dinamis. Kesabaran juga biasanya berhubungan erat dengan perasaan syukur. Artinya orang yang pandai berterima kasih biasanya ia penyabar, sedangkan orang yang tidak mengerti berterima kasih (kufr ni`mat) biasanya emosinya mudah digelitik.


0 komentar: